Sejarah

Sejarah

Terlahir pada awal masa Orde Baru dengan nama SPIK (Sekolah Pembangun Industri Kerajinan). Bibit Buit-nya dari Yogyakarta, yang jika dibaca mundur: SPIK (Sekolah Pembangun Industri Kerajinan) Prabangkara Yogyakarta - SMPT (Sekolah Menggambar dan Pekerjaan Tangan) Prabangkara Yogyakarta - SGPG (Sekolah Guru Pekerjaan Tangan dan Gambar) Prabangkara Yogyakarta - SGA (Sekolah Guru Atas) Negeri 3 Prabang-kara Yogyakarta yang menghususkan pada Pendidikan Guru Pekerjaan Tangan dan Gambar bagi SLTP dan satu-satunya di Indonesia.

Keberanian merubah status dari Sekolah Guru (SGA/SGPG) menjadi Sekolah Kejuruan (SMPT/SPIK) dilakukan karena merasa prihatin oleh Krisis Ekonomi pada tahun 1960-an yang berdampak Negatif pada system penggajian PNS dan penempatan lulus-an sekolah guru. Akibatnya banyak alumni sekolah guru termasuk alumni SGPG Enggan menjadi guru bahkan ada yang mundur dari PNS, dan survey membuktikan bahwa alumni SGPG yang Mandiri lebih sejahtera hidupnya dibandingkan dengan yang menjadi PNS. Dari sisnilah awal pemikiran untuk merubah sekolah guru (SGPG) menjadi sekolah kejuruan (SMPT).    

Pada tahun 1968 terjadi pengembangan kurikulum sekolah, SMPT yang belum sempat meluluskan alumni terpaksa harus melakukan penyesuaian. Momen ini dimanfaatkan oleh SMPT melalui Yth.  Bapak Hono Sucito (kepala sekolah) untuk mengembangkan diri, hasilnya: Menggambar dan Pekerjaan Tangan berpisah. Menggambar menjadi SSRI (dibaca sesri, Sekolah Seni Rupa Indonesia) dan Pekerjaan Tangan menjadi SPIK (Sekolah Pembangun Industri Kerjinan kemudian)

SPIK Negeri Tasikmalaya terlahir tahun 1969 (satu-satunya di Jawa Barat) tidak dengan spesifikasi keahlian, orientasinya di sekitar Seni Kriya yang bersifat Mayor (Meliputi Seni Kriya yang ada di Indonesia) dan Minor (Meliputi Seni Kriya Khas Jawa Barat).

Reformasi Sistem Pendidikan tahun 1976 menghasilkan perubahan SPIK menjadi SMIK dengan 6 (enam) keahlian (saat itu disebut jurusan) yitu: Kerajinan Anyam (1), Kerajinan Batik (2), Kerajinan Kayu (3), Kerajinan Keramik (4), Kerajinan Kulit (5), dan Kerajinan Logam (6).  Pada lebih kurang 20 (dua puluh) tahun kemudian Reformasi Sistem Pendidikan kembali berulang, kali ini bersifat  Penyesuaian terhadap Undang undang Sistem Pendidikan Nasional,  seluruh sekolah kejuruan menggunakan 1 (satu) nama yaitu: SMK dan dibenarkan membuka berbagai Bidang Studi Keahlian sebagai SMK Besar, sedangan SMK yang hanya mampu membuka satu bidang keahlian disebut SMK Kecil. Spesifikasi keahlian disempurnakan, Kerajinan menjadi Kria dan menggabungkan anyam/batik menjadi tekstil sehingga spesfikasi keahlian kerajinan menjadi 4 (empat) yaitu: Kria Kayu, Kria Kulit, Kria Logam, dan Kria Tekstil.